Tuesday, January 22, 2013

Tips Dan Trik .

1. PUSH UP DALAM KARATE
Latihan Push Up adalah suatu latihan kekuatan fisik yang lazim ditemui di setiap cabang olah raga ilmu beladiri baik Karate, Taekwondo, Kungfu, Silat dsb. Semua beladiri tersebut memerlukan latihan push up untuk membentuk pengamalnya menjadi seseorang yang kuat serta tangguh fisiknya. Bahkan dalam olah raga beladiri tertentu semisal Karate seseorang yang mempunyai kapalan di tangannya, akan dikagumi oleh orang-orang disekitarnya khususnya teman-temannya sesama pengamal beladiri. Hal ini dikarenakan orang yang tangannya kapalan berarti ia sudah sangat sering push up dengan tinjunya atau kepalannya, bahkan sudah menjadi kebiasaan atau gaya hidupnya sehari-hari. Sebagaimana kita tahu orang yang sudah sangat sering push up dengan tinjunya, berarti mempunyai pukulan yang mematikan dikarenakan latihan push up tersebut memberikan mamfaat berupa daya dorong yang kuat pada tangan/tinjunya, sehingga pukulannya akan memberikan daya dorong tenaga (power) yang besar dan kecepatan yang mengagumkan. Selain untuk memperkuat daya dorong pukulan, push up juga mempunyai beberapa mamfaat lain yaitu:
Pertama:
 
Push Up menguatkan otot Lengan, Bahu dan Dada. Gerakan push up yang terpusat pada tubuh bagian atas akan membuat dada dan bahu anda kuat dan tegap, lengan anda sebagai pusat penggerak akan mempunyai otot yang kekar dan kuat.

Kedua:
Push Up juga membuat anda tidak mudah terkilir, terutama pada bagian lengan dan bahu. Selain kuat otot lengan dan tubuh bagian atas menjadi lebih lentur.

Ketiga:
Push Up membantu melancarkan aliran darah ke kepala, terlebih lagi bila anda melakukan latihan leher sebelum memulai push up sesuai dengan petunjuk di atas, sehingga anda akan dapat merasa lebih segar dan nyaman.
 
Bagaimana cara latihan Push Up yang benar? , berikut adalah tips-tipsnya:
Sebelum memulai latihan Push Up, selalu awali dengan latihan leher, lakukan gerakan menekuk leher ke depan dan kebelakang minimal 30 kali, lanjutkan dengan menekuk ke kiri dan ke kanan minimal juga 30 kali, dan lanjutkan dengan membuat gerakan memutar, dengan setiap 3 kali gerakan berganti arah putaran, ulangi sampai 5 kali. Latihan leher diperlukan agar anda tidak mengalami cedera leher akibat tarikan urat leher pada saat melakukan gerakan push up. Latihan leher ini juga mencegah anda dari rasa pusing setelah push up.
Untuk melakukan push up yang benar, mula-mula posisikan tubuh anda tertelungkup. Letakkan lengan tepat di samping kanan dan kiri anda, tidak terlalu lebar juga tidak terlalu sempit. Bagi yang ingin memperkuat pukulannya maka Push Up dengan tangan dikepalkan adalah lebih baik. Berikut adalah contoh gambarnya: 

 Pada gambar tsb, bagian yang dilingkari adalah yang menjadi tumpuan berat badan alias yang menempel pada lantai/tanah, karena bagian tsb merupakan bagian/alat yang digunakan untuk memukul lawan. kemudian Tarik nafas sebelum mengangkat tubuh, dan bersamaan dengan gerakan lengan mengangkat tubuh anda lepaskan nafas. Saat bergerak turun tarik nafas kembali.Bagaimana cara melakukan repetisi Push Up yang baik? Berikut Tipsnya:
 
Idenya adalah untuk memulai push up secara bertahap sehingga setiap ketidaknyamanan Anda merasa hari berikutnya adalah minimum. Mulai dengan 10 push up minggu pertama. Anda dapat melakukan push sehari-hari atau setiap hari dan setengah. Anda bisa mengambil libur akhir pekan sehingga tubuh Anda memberikan cukup waktu untuk memulihkan dan memperkuat. Pastikan Anda minum cukup air setelah push up untuk mencegah dehidrasi karena hal ini akan berdampak negatif bangunan otot Anda.
  •  Minggu berikutnya menambahkan lain 10 push up untuk rutinitas Anda dan tren ini harus terus sampai Anda mencapai 100 push up. Penting bahwa Anda tetap memperpanjang target Anda sehingga Anda membantu Anda untuk mengencangkan otot dan tumbuh. 
  • Jika Anda terus meningkatkan jumlah push up yang Anda lakukan setiap minggu, Anda akan melihat perbedaan massa otot Anda dengan bulan kelima.  

Monday, January 21, 2013

7 Alasan Penting Berlatih Kihon secara Konsisten


Kihon adalah suatu gerakan dasar dalam Karate atau unsur  terkecil sebagai dasar dari terbentuknya suatu teknik,  yang biasanya berupa   dari rangkaian dari beberapa buah teknik terkecil tadi.  Dalam Pencak Silat Kihon bisa disamakan dengan istilah jurus Tunggal. 
 
Sebelum dan sehabis pulang kerja biasanya Penulis meluangkan waktu untuk latihan Karate di rumah  selama 1 jam lamanya (total latihan rata-rata 2 jam perhari). Lumayan toh untuk  orang sibuk seperti saya hehehe..  Biasanya sore itu penulis mengawali latihan dengan berlatih Kihon selama kurang lebih 30 menit.  Tapi entah kenapa sepertinya  hari itu penulis malas sekali untuk berlatih Kihon, penulis ingin langsung beralih ke latihan teknik –teknik baru yang Penulis sukai dan penulis memang penasaran akan teknik-teknik tersebut.  Baru terlintas pikiran yang demikian tiba-tiba sayup-sayup terdengan suatu obrolan seorang bocah laki-laki dengan ayahnya yang dapat benar-benar mengubah niat saya sebelumnya untuk tidak melakukan latihan Kihon sore itu. Begini percakapannya:
Anak :  ”Yah kenapa aku selalu diberi PR oleh bu Guru tentang hitung-hitungan terus, padahalkan aku jago Matematika , apa enggak ada yang lain, aku bosan yah !!!
Ayah :  ”PR hitung-hitungan sebenarnya untuk melatih keterampilan kamu agar mahir dan semakin menjadi lebih pintar, karena berlatih hitung-hitungan adalah dasar dari modal kamu untuk memecahkan soal-soal Matematika yang lebih sulit lagi.” Katanya kamu mau jadi seorang insinyur yang pandai membuat mesin-mesin canggih? Jika kamu mau menjadi seorang insinyur, maka hitung-hitungan adalah makanan mereka sehari-hari, mereka harus pandai dalam hal ini dulu sebelum dapat memecahkan persoalan lain yang lebih rumit lagi.
Anak  :  ”Oh gitu ya Yah, emang cita-citaku kepingin menjadi insinyur yang sukses, baiklah kalo begitu saya akan mengerjakan seluruh latihan hitung-hitungan yang ditugaskan oleh bu guru dengan baik.
Percakapan itu membuat saya terenyah. Tiba tiba saya teringat kata-kata Senpai saya dahulu, waktu saya baru mulai belajar Karate, tentang pentingnya latihan Kihon untuk semua tingkatan atau jenjang Para Karateka. Menurut Senpai saya  ada 7 mamfaat penting dari latihan Kihon berulang-ulang yaitu:
  
Melatih Kihon  sebenarnya adalah memperkuat, meningkatkan, dan mempertahankan   daya reflek, kekuatan,  anggota tubuh yang akan digunakan untuk senjata membeladiri.
  • Memperkuat, meng efisienkan, dan mempertajam focus tenaga yang digunakan untuk memukul , menangkis  maupun menendang
  • Memantapkan koordinasi gerakan bagian-bagian tubuh yang akan digunakan sebagai senjata dan perisai (menangkis).
  • Mempertajam gerakan dasar, sehingga dapat bekerja dengan baik (lebih cepat, berirama , stabil, dan yang paling penting mempunyai bentuk yang benar sehingga dapat menghindari cedera).
  • Menyempurnakan gerakan-gerakan teknik dan Kata, apabila Kihon tersebut digabungkan menjadi rangkaian teknik atau kata. Ibaratkan Kata adalah sebagai busur panah, sedangkan anak panah, berikut ujungnya yang runcing  dan kuat adalah Kihonnya. Sebuah alat panah tidak dapat menghasilkan tembakan yang menghasilkan damage yang besar (menusuk Kijang) jika anak panahnya tidak kuat (keras) , atau gampang patah, misalnya anak panahnya terbuat dari lidi tipis maka sebelum dia menembus kulit kijang, tentunya anak panah tersebut akan hancur ketika mengenai kulitnya, tetapi bila anak panahnya kuat (terbuat dari kayu jati atau besi) maka kulit rusa atau kijang, bahkan tulangnyapun dapat tertembus oleh anak panah tadi. Bisa dibayangkan kalau Kihon kita begitu powerful  dan jika  dirangkaikan menjadi sebuah gerakan Kata maka yang dapat terlihat dan rasakan adalah seperti mempunyai sebuah alat/ mesin  senjata  dashyat yang paling mematikan dan  efisien. 
    Secara Psikologis keuntungan berlatih Kihon adalah :
    Dengan berlatih kihon berulang-ulang maka sebenarnya mengingatkan kita pada waktu pertama kali kita mulai belajar Karate. Saat-saat itulah yang membuat kita sangat antusias sekali terhadap Karate. Oleh karena itu mamfaat secara psikologis berlatih Kihon secara berulang-ulang adalah untuk mengingatkan diri kita agar selalu mawas diri agar tidak sombong, selalu rendah hati dan selalu konsisten dalam berlatih.
    • Latihan Kihon adalah menu wajib sebelum kita beralih ke Latihan inti, jadi mamfaatnya secara psikologis disini adalah mendidik kita supaya selalu suka bekerja keras, konsisten, disiplin dan pantang menyerah.


    Akhirnya sore itu saya lewati dengan melakukan latihan Kihon dahulu, sebelum akhirnya melakukan latihan-latihan yang lain, sama seperti hari-hari sebelumnya atau kebiasaan yang penulis lakukan sebelumnya. 
     

Pengetahuan Dasar Karate di Dojo

Pengelompokan Karateka dalam berbagai level ditujukan agar dapat  mendorong para murid untuk berlatih dan menghindari kejenuhan dalam latihan. Pengelompokan tingkat Karateka tersebut umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a.   Tingkat Kyu atau pemula ,mereka disebut Mudansha dan umumnya level ini dimulai dari bilangan besar (10 / 9) ke kecil (1/ 1) sebagai pembeda yang mengacu pada tingkat penguasaan akan substansi teknik dasar perguruannya. Penggunaan ikat pinggang dengan berbagai warna yang diadopsi oleh Gichin Funakoshi dari sistem Judō oleh Jigoro Kano lazim digunakan sampai saat ini sebagai pembeda tingkat, dan biasanya umumdimulai dengan warna putih bagi Kohai yang baru memulai  latihan.

b.    Tingkat Dan atau lanjutan / mahir , mereka disebut Yudansha  dan umumnya level ini di Shotokan dimulai dari bilangan kecil   ( 1 ) ke besar ( 9 / 10 ) sebagai pembeda yang lebih mengacu pada tingkat penguasaan jiwa lewat pemahaman teknik    berdasarkan substansi filosofi perguruannya.Warna ikat  pinggang yang paling umum dipakai adalah hitam (meskipun pada  beberapa ryu / aliran ada beberapa variasi warna yang dilakukan).Khusus  Yudansha ada banyak istilah yang lebih spesifik dalam hal  penyebutan nama, yaitu :

.  Sempai , berarti senior dalam bahasa Jepang.Umumnya di Shotokan  
        digunakan para Kohai untuk memanggil mereka yang memiliki jabatan  
        sebagai asisten pelatih/pelatih biasa dengan kualifikasi Kyu 3 ~ Dan 3.
      ii. Sensei , berarti guru dalam bahasa Jepang.Umumnya di Shotokan         
        digunakan untuk penyebutan Yudansha dengan kualifikasi Dan IV
        ~ V atau pelatih kepala.
      iii. Renshi , berarti guru ahli / utama dalam bahasa Jepang.Umumnya di 
         Shotokan digunakan untuk penyebutan Yudansha dengan kualifikasi  
         Dan  VI ~ VIII.Istilah lain adalah Dai Sensei atau Kyoshi.
      iv. Shihan , berarti guru besar / mahaguru dalam bahasa          
         Jepang.Umumnya  di Shotokan digunakan untuk penyebutan Yudansha  
         dengan  kualifikasi Dan IX ~ X . Istilah lain adalah  Hanshi.
     v. Beberapa varian lain untuk pemimpin tertinggi   perguruan dalam seni 
        beladiri Jepang adalah : Menkyo, Kaiden, Osho, Soke, Doshu, Taisho,
        Sosho, O Sensei, Kaiso, Shodai, Kaicho, Kancho
2.   Sarana penunjang latihan ; yang dimaksud disini yaitu :
a.   Pakaian : pada awalnya di Okinawa tidak ada pakaian khusus untuk berlatih ilmu beladiri apapun , bahkan dalam beberapa foto dokumentasi dari abad 19 terlihat para praktisi ilmu beladiri hanya mengenakan celana saja tanpa baju. Baru setelah mereka berinteraksi dengan disiplin ilmu beladiri Jepang lainnya diawal abad 20 (dipelopori Gichin Funakoshi yang mengunjungi Dōjo Kodokan milik Jigoro Kano) hal tersebut dapat diseragamkan hingga kini dengan memodifikasi seragam Judō yang telah ada. Pakaian untuk berlatih ini disebut sebagai Karate-gi atau Dō-gi atau Keiko-gi, terdiri atas semacam jaket berlapis dua(Uwagi ) dan celana panjang longgar (Zubon) yang berwarna putih ; serta sebuah ikat pinggang tebal dari kain yang dijahit rangkap ( Obi ) yang dililitkan dua kali dan berwarna sesuai tingkatan yang dicapai penyandangnya ( lihat pembahasan SubBab  diatas ! ).Bahan yang paling baik untuk digunakan adalah jenis kain kanvas yang tidak terlalu tebal seperti halnya bahan kanvas pada seragam Judō , namun memiliki daya tahan yang sama.Agaknya pakaian ini memang sangat berperan besar dalam perkembangan Karate keseluruh penjuru dunia, karena ia memiliki semacam keluwesan tersendiri sehingga terbukti bisa dengan mudah beradaptasi secara universal bagi para praktisi yang berasal dari belahan dunia manapun atau unsur etnis maupun religius apapun juga. Dewasa ini sesuai perkembangan mode dan teknologi pertekstilan telah banyak diciptakan karate-gi dengan model, bahan dan bahkan warna yang berbeda dengan model asli tradisional Jepang (terutama sekali terjadi pada Karate di Amerika & Eropa ). Namun bahan yang terbukti paling baik adalah yang berbahan dasar katun yang telah teruji dalam penyerapan keringat selama berlatih.Tercatat nama Tokaido sebagai salah satu perintis awal dan produsen karate-gi bermutu yang paling dikenal luas di dunia.
b.   Tempat : disebut Dōjo yang berarti “tempat untuk mempelajari” dalam bahasa Jepang, dan pada jaman lampau lebih mengacu pada arti “aula untuk bermeditasi dalam kuil”.Dalam sebuah Dōjo tradisonal di Jepang ada banyak aturan yang sangat mengikat dan penuh tatakrama lama, seperti penempatan altar dan Kamiza(tempat duduk khusus untuk guru) serta penggunaan Tatami (matras) dan Zori (sandal khusus dari kayu & jerami). Inilah agaknya hal yang mendasari kesakralan eksistensi sebuah Dōjo secara mistis religius bagi para penganut paham Karate Tradisional yang konservatif pada akar budaya Sino- Jepang ; suatu persepsi yang mendapat penentangan keras dari praktisi  Karate-dō di dunia Barat yang sangat anti pada sesuatu yang bersifat irasional & non-logika.Bahkan saat ini banyak para guru besar berpengaruh asal Jepang sendiri seperti Hirokazu Kanazawa dan Hitoshi Katsuya yang secara tegas berani menolak penerapan sistem Dōjo lama (Shiai-jo) tersebut.Bagaimanapun juga secara umum dewasa ini sebuah Dōjo sudah dapat dikatakan memenuhi syarat standar apabila memiliki luas yang cukup, berlantai datar, berdinding dengan ventilasi yang cukup dan memiliki atap yang agak tinggi.Tentunya hal diatas harus dibarengi dengan kebersihan dan kenyamanan serta beberapa sarana lain yang bersifat tambahan sesuai kebutuhan.   
c.   Alat : tidak ada suatu jenis alat khusus apapun yang harus dipakai dalam sebuah latihan Karate . Penggunaan alat tradisional Jepang seperti Makiwara (semacam samsak) lebih dikarenakan faktor kebiasaan setempat . Terbukti kini sangat banyak model alat yang sangat sukses dipakai sebagai penunjang program latihan yang menekankan pada penerapan fungsi ilmu faal dan  anatomi tubuh secara tepat dengan inovasi yang berteknologi modern yang telah teruji.
3.   Program – program permanen ; yang dimaksudkan disini adalah rangkaian / proses kegiatan yang harus ada dan berlangsung secara berurutan dalam sebuah latihan Karate-do dalam Dōjo .Sesuai aslinya yang berdasarkan prinsip standar ajaran Budō (seni beladiri Jepang) maka minimal ada delapan buah proses wajib dalam sebuah latihan formal seni beladiri Karate-dō yang mana pemaparan proses – proses tersebut dijelaskan dengan urutan sebagai berikut di bawah ini :
a. Rei-Shiki /Upacara /Tradisi penghormatan pembuka
b. Taisō / Senam / Stretching pembuka
c. Kihon
d. Kata
e. Kumite
f. Mondo / Diskusi tentang materi latihan
g. Taisō penutup
h. Rei-Shiki penutup
a.    Rei-Shiki pembuka dan penutup sama bentuknya, biasanya peserta duduk dengan posisi Sei-za / Za-zen(di Jepang orang lebih mengutamakan posisi duduk “ala tukang jahit “ karena dianggap lebih sopan dibandingkan posisi duduk “ala bunga teratai”) dalam beberapa lajur sesuai tingkatan. Lalu diawali dengan pembacaan Dōjo-Kun & Niju-Kun (diIndonesia diganti dengan Sumpah Karate), melaksanakan Mokuto (mengheningkan / mengonsentrasikan / merelaksasikan pikiran, bukan makuso / mokuso untuk pengucapannya ! )danterakhir melakukan Shomen-Ni-Rei (penghormatan terhadap yang ada di depan peserta Rei-Shiki, di Jepang hal ini mengacu pada Mufudakake / papan kayu kecil di dinding utama sebuah Dōjo yang berisikan nama – nama para pendiri / guru dari ryu tersebut. Di Indonesia hal ini diganti dengan bendera negara dan lambang perguruan).Semua proses itu dilakukan secara bersama – sama. Selanjutnya barulah dilakukan Sensei-Ni-Rei(penghormatankepada guru) , lalu Otagai-Ni-Rei (penghormatan terhadap sesama peserta Rei-Shiki) dan terakhir Dōjo-Ni-Rei (penghormatan kepada Dojo).Semua bagian Rei-Shiki ini dilakukan dengan posisi Za-Rei (penghormatan sambil duduk), diiringi pengucapan kata OSH yang merupakan salam resmi hampir semua perguruan Budō di Jepang.
B.    Mondo ; arti sebenarnya adalah pertemuan resmi antara guru dengan para siswanya dalam sebuah Dōjo yang berasal dari tradisi kuno Zen (sekte utama agama Budha di Jepang).Disini dibahas lewat dialog maupun diskusi tentang pokok bahasan latihan yang telah diberikan. Pada tradisi aslinya para guru akan mengakhiri dengan sebuah Koan / frasa singkat yang tak memiliki arti logis namun lebih pada nilai filosofis.
 
Belajar Karate sampai Sabuk Hitam 
Pentingkah Belajar Karate sampai Sabuk Hitam? 

Kalau ditanya “sudah sabuk apakah kamu sekarang? atau sekarang sudah sampai tingkat berapa kamu dalam beladiri?” begitulah pertanyaan yang sering mampir ke telinga orang-orang yang sedang belajar ilmu beladiri. Lantas apa jawaban kita? Banyak jawaban yang biasa kita temui di lapangan, biasanya mereka menjawab dengan ragu-ragu sambil berpikir:”emmh sebenarnya sih aku sudah sabuk biru tapi bulan kemarin aku gak ikut ujian” atau pokoknya aku sudah sabuk /tingkat tinggi, rahasialah!”. Umumnya mereka menjawab penuh keragu-raguan atau sambil berpikir karena mereka bingung harus menjawab apa kepada lawan bicara mereka, mereka takut kalau menjawab sudah sabuk tinggi nanti jika lawan bicara melihat kemampuan tehnik mereka rendah/tidak sesuai harapan lawan bicara maka mereka yang belajar ilmu beladiri akan malu tapi jika mereka menjawab kepada lawan bicara “ aku masih sabuk putih atau kuning”maka mereka takut direndahkan oleh lawan bicara mereka karena tingkatan beladirinya yang masih rendah. Tapi terlepas dari itu semua, seorang sensei yang mempunyai tingkat Dan III keatas memberikan pendapat bahwa belajar karate sampai sabuk hitam tidak lah terlalu penting karena jika kamu sudah bisa mengeksekusi pukulan, tangkisan, tendangan dan kuda-kuda yang baik dalam beladiri Karate maka itu sudah merupakan bahan utama untuk beladiri. Itu saja sudah cukup. Tinggal bagaimana kita yang mengembangkannya. Sampai-sampai dia sendiri mengistilahkan lebih baik sabuk rendah tapi teknik tinggi daripada sabuk tinggi tapi teknik pas-pasan. Memang kata-kata sensei tadi sangat benar, ini berkaitan dengan pengalaman pribadi penulis dan teman-teman penulis yang terjadi di lapangan. Di lapangan banyak ditemui rekan-rekan yang sudah sabuk tingkat tinggi, yang kalau diuji kemampuan teknik bertarungnya dengan rekannya yang sabuknya masih tingkat rendah maka yang sudah sabuk tingkat tinggi tersebut kalah. Misalkan sabuk Kuning lawan sabuk Biru, sabuk Biru kalah. Sabuk Coklat lawan sabuk Hitam, sabuk Hitam kalah. Dari situ Penulis dapat menganalisis dan menyimpulkan bahwa kekalahan orang yang mempunyai sabuk tinggi adalah terletak pada semangatnya sewaktu latihan. Mereka hanya sekedar mengikuti latihan sekedarnya saja alias semangat mereka sudah melorot dibandingkan sebelum dia mendapatkan sabuk tinggi atau masih tingkatan rendah. Mereka sudah malas-malasan untuk mengejar mutu dari belajar karate mereka, mereka hanya mementingkan identitas/gelar sabuk yang tinggi, bahwa kalau sudah sabuk Hitam maka mereka bakalan dihargai oleh orang-orang. Padahal sebenarnya tidaklah begitu, berikut ini alasan2 mengapa sebagian orang menganggap bahwa mengejar sabuk Hitam tidaklah penting:

• Belajar Karate biar dibilang hebat karena sudah bisa menghapal jurus (KATA) yang sebegitu banyak sampai dianggap bisa menghapal KATA tingkat tinggi Fakta : Banyak anak kecil Sekarang yg ngapalin Unshu, Suparinpai, Kururunfa, Gojushiho/ Useishi. Tapi tidak ada hasilnya alias cuma buat hapalan saja. Bahkan sekarang-sekarang ini saja, banyak anak-anak kecil yang mempunyai level senior dalam karate padahal secara fisik mereka belum sanggup. Bahkan waktu gashuku penulis pernah melihat anak kelas 5 SD sudah sabuk coklat strip 3 Kyu 1 level terakhir ditingkatan siswa. Mereka sudah bernafsu ngotot pengen ikutan ujian ke sabuk hitam. • Biar dibilang sudah senior jika sudah memakai sabuk Hitam. Fakta : kalau mau sabuk hitam tinggal pergi ke toko olahraga beli sabuk hitam pilih yg corak kuning emas. gampangkan? • Untuk melamar jadi satpam sepertinya ada gunanya bawa sertifikat sabuk beladiri. Fakta : Tapi nggak tau apakah semakin tinggi sabuknya akan semakin tinggi gaji yang diterimanya.

Menurut pendapat penulis bukan masalah penting atau tidaknya meraih sabuk hitam, tapi kembali lagi apa tujuan kita berlatih Karate. Mungkin sabuk Hitam berguna jika kita ingin menjadi pelatih atau pengurus dari suatu organisasi Karate. Tetapi hendaknya jika kita belajar Karate, kita jangan hanya condong mengejar tingkatan sabuknya saja, tetapi kita harus meningkatkan kualitas dari latihan karate kita. Jika kualitas latihan kita bagus atau penguasaan akan ilmu Karate bagus maka sabuk atau pengakuaan akan datang dengan sendirinya sesuai keilmuan praktisinya, walaupun kita hanya punya sabuk dengan tingkatan rendah. Logikanya seperti ini:" jika kau dijuluki si tukang makan, maka bukan artinya kau ingin dijuluki si tukang makan tetapi karena kau memang doyan sekali makan, jadi saking doyannya secara tidak sadar kau dijuluki si tukang makan.

 Bahkan Penulis menemukan fakta di lapangan bahwa ada seseorang yang sudah Dan III dalam suatu perguruan Karate yang sudah sembilan tahun sudah tidak berlatih karate sama sekali, dan baru-baru ini ia berkeinginan untuk kembali berlatih Karate lagi. Hal ini menurut Penulis, menyalahi tiga prinsip dari ke20 Filosofi Karate Ginchin Funakoshi yaitu:pertama " mempelajari karate memerlukan waktu seumur hidup dan tak punya batasan", kedua “Karate seperti air yang mendidih, jika kamu tidak memanaskannya secara teratur, ia akan menjadi dingin” dan ketiga “ Masukan Karate dalam keseharianmu, maka kamu akan menemukan Myo (rahasia yang tersembunyi). Berkaitan dengan hal tadi, menurut Penulis walaupun sudah tinggi tingkatannya orang tersebut masih belum mengerti dan memahami apa mamfaat dan filosofi dalam Karate. Seharusnya dengan bekal ilmu Karatenya yang sudah tingkat tinggi ia harus selalu terus mengamalkan karatenya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut penulis sayang sekali kalau sudah Dan III, karatenya justru ditinggalkan, lebih baik sabuk rendah tapi ilmu karatenya rutin terus diamalkan sepanjang hidupnya daripada sudah tingkatan tinggi tapi berhenti di tengah jalan alias tidak konsisten. Hal ini dapat dimaklumi karena rendahnya kualitas sekolah beladiri di tanah air yang kebanyakan hanya mengejar tingkatan sabuk, lain halnya dengan di Jepang. Di negara matahari terbit tersebut seseorang yang belum pantas kualitas tekniknya tidak berhak untuk naik tingkat, dan tidak di perbolehkan untuk mencapai sabuk Hitam walaupun dia sudah senior (peserta yang sudah lama belajar di Dojo). Nah! Bagaimanakah dengan Anda, apakah anda hanya ingin sekedar mengejar sabuk Hitam tanpa meningkatkan kualitas teknik anda? Apakah anda termasuk orang yang tidak mementingkan sabuk Hitam dan hanya fukos pada penguasaan teknik2 saja, ataukah kedua-duanya?

Wednesday, September 5, 2012

Apa Itu KKI??

Aliran Kushin Ryu pertama-tama dikembangkan di Indonesia oleh orang Jepang bernama Matsuzaki pada tahun 1963. Matsuzaki adalah karateka yang cukup disegani saat itu di Jepang, baru saja menjuarai kejuaraan terbuka di Osaka. Pada saat mendapatkan bea siswa ke Indonesia untuk melakukan penelitian sejarah di Indonesia, usianya baru berumur 22 tahun. Dengan berat hati ia meninggalkan Jepang, ia kesal karena prestasi karatenya terhambat. 


Didorong dengan jiwa dan semangat karatedo-nya ia mengembangkan ilmunya kepada para pemuda Indonesia yang mula-mula terbatas di Kota Bandung pada tahun 1967. Matsuzaki yang saat itu menyandang DAN V Karate DO serta DAN V Judo Kodokan, dalam waktu singkat ilmu karatedo yang diajarkan telah menyebar luas keseluruh lapisan masyarakat Para Pelajar, Mahasiswa dari ITB, UNPAD, IKIP, APDN, Anggota ABRI, Pegawai Megeri maupun swasta mengikuti latihan, sehingga dalam waktu beberapa minggu saja siswanya sudah mencapai jumlah sekitar 5000 orang.

Karena aliran karate yang dibawanya adalah aliran Kushin Ryu Karate Do, maka pada saat itu resmilah menjadi suatu perguruan Kushin Ryu M Karate Do Indonesia yang di singkat KKI resmi didirikan pada tanggal 11 April 1967.

Kemudian perguruan KKI juga banyak berkembang di kesatuan ABRI baik angkatan darat maupun angkatan laut. Peranan anggota TNI dalam membina perkembangan KKI di Indonesia sangat membanggakan khususnya di lingkungan Kodam III Siliwangi. Anggota ABRI yang saat itu bertugas di daerah, selalu mengembangkan ilmu bela diri karatedo KKI, diantaranya di Irian Jaya, Sumbawa, Bali, Mataram, Dili – Timtim, Sulawesi, NTT, Jawa Tengah (AKABRI). Hampir seluruh kesatuan yang berada di Jawa Tengah dalam ilmu karate-do kerada di bawah binaan KKI Cabang AKABRI, termasuk angkatan Udara, POM AD, ARMED dan Kaveleri. Hingga saat ini perguruan KKI telah menyebar luas secara nasional

Guru Besar KKI,
Soke Horyu Matsuzaki P.hd

DAN X Karate-Do


Apa itu KARATE??


Karate


Karatedo.svg
Karate
(空手)
Hanashiro Chomo.jpg
Hanashiro Chomo
Nama lainKarate-dō (空手道)
FokusStriking
Tingkat kekerasanKontak penuh
Negara asalBendera Jepang Japan (Ryukyu Islands danSeni bela diri Cina kenpō dan kemudian dikembangkan di Jepang)
PenciptaSakukawa KangaMatsumura SokonItosu AnkoGichin Funakoshi
Seni pendahuluSeni bela diri ChinaSeni bela diriasli dari Ryukyu Islands (Naha-te,Shuri-teTomari-te)
Olahraga OlimpiadeTidak
Karate (空 手 道) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手 (pinyinkongshou).
Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:
  1. Shotokan
  2. Goju-Ryu
  3. Shito-Ryu
  4. Wado-Ryu
Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.
Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin , Shorin-ryu danUechi-ryu tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam "4 besar WKF".
Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat "tanpa kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak langsung".
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
  1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
  2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
  3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.
Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.